Rabu, 04 Juni 2014

PEMBAHASAN KUFAH

 Landasan Epistemologis Ilmu Nahwu di Kufah

Kajian nahwu di Kufah muncul berselang kurang lebih seratus tahun setelah kajian nahwu di Basrah. Hal ini disebabkan karena di Kufah lebih disibukkan kajian terhadap hadis, fiqih dan qira`ah. Sedangkan di Basrah para ulama lebih disibukkan kajian bahasa, nahwu, filsafat dan mantiq. Disamping itu pula para penduduk Kufah lebih suka berpegang teguh terhadap tradisi-tradisi kuno. Karena di daerah tersebut banyak tinggal orang-orang yang asli Arab khususnya para sesepuh shahabat Nabi Muhammad saw. Seperti Amr bin Yasir, AbdAllah ibn Mas'ud dan lain sebagainya. Pada masa Ali, Kufah sebagai pusat kegiatan laskar tentara Islam. Maka dinamakan Kufah karena untuk tentara. Mungkin dengan sebab banyak kegiatan militer ini  para penduduk Kufah kurang  perhatiannya dalam mengikuti kebudayaan yang sedang berkembang sebagaimana Basrah[1].
Kufah adalah suatu kota di Irak yang terletak di sebelah kanan sungai Kufah yang merupakan salah satu cabang dari sungai Eufrat. Kota ini merupakan salah satu kota bersejarah di Irak yang dibangun oleh Sa'ad bin Abi Waqqas di masa pemerintahan Umar bin Khattab pada tahun 15 H[2].  Kufah menjadi pusat pemerintahan pada masa Khalifah Ali bin Abi Talib. Di sana terdapat sebuah mesjid dengan sebutan masjid Kufah dan di mesjid inilah Ali bin Abi Talib terbunuh. Kota ini merupakan lambang kebesaran Islam dan menjadi tempat tujuan dan tempat berkumpul orang-orang Islam[3].
Di masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan (644-656), pertentangan internal mulai  tampak. Kelompok elite suku Arab yang lebih dahulu tinggal di Kufah pada masa Umar merasa kedudukannya tergeser oleh para pendatang baru. Dalam pada itu, Kufah juga menjadi basis golongan pendukung  Ali bin Abi Talib[4].
Karena alasan politik, Khalifah Ali bin Abi Talib (656-661) memindahkan ibukota pemerintahan dari Madinah ke Kufah. Sejak itu, kota ini menjadi basis kekuatan pendukung Ali dan keluarganya[5]. Dukungan tidak hanya bersifat politik, tetapi telah berubah menjadi suatu akidah dan ideologi bahwa kepemimpinan umat harus dipegang Ali dan keturunannya. Kelompok mereka selanjutnya disebut Shi`ah.
Pergolakan  politik  menjadikan  Kufah  lebih menyerupai pusat militer untuk menumpas para pemberontak yang berakibat peperangan. Seperti Perang Jamal[6](656), yakni perang antara Ali dan pihak yang menuntut bela terhadap kematian Uthman bin Affan, dan perang Siffin[7](657), yakni perang antara Ali dan Muawiyah bin Abi  Sufyan. Akhirnya, Kufah menjadi saksi atas terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Talib pada Januari 661[8].
            Di masa Bani Umayyah (661-750), Kufah senantiasa menjadi sumber pemberontakan pro Shi`ah, antara lain pemberontakan di bawah pimpinan Muslim bin Aqil yang mengakibatkan terbunuhnya Husayn bin Ali bin Abi Talib di Karbala pada 680[9].
Sejak awal berdirinya, Kufah telah dibanjiri para Sahabat Nabi Saw. Di antara mereka yang paling terkenal di bidang ilmu adalah Ali bin Abi Talib dan AbdAllah bin Mas`ud (w. 33 H/652 M). Karena disibukan urusan politik dan peperangan, Ali tidak mempunyai kesempatan untuk mengajar.  Sebaliknya Ibn Mas`ud merupakan orang yang sangat berpengaruh di bidang ilmu[10]. Kufah  selanjutnya membentuk aliran tersendiri dalam bidang fikih dan pengetahuan bahasa Arab (nahwu) dan menjadi tandingan bagi Basrah.
Ahli sejarah mengungkapkan bahwa Kufah adalah tanah air  orang-orang Shi'ah ahl al-bayt. Di dalamnya muncul AbdAllah bin Saba`, ia mendapatkan lahan yang subur untuk menyebarkan ajakan menentang Muawiyah, Gubernur Sham waktu itu. Akibat dari fitnah dan hasutannya itu orang-orang Kufah menjadi marah kepada Uthman bin Affan yang waktu itu menjadi khalifah yang berkedudukan di Madinah. Kufah merupakan pusat pengendalian perlawanan melawan pemerintahan pusat yang berkedudukan di Madinah. Sebagaimana dikatakan  oleh al-Mas'udi bahwa penduduk Kufah adalah yang paling cepat menerima bay'ah Ali bin Abi Talib[11].
Sesuai dengan berlalunya masa, maka Shi'ah pun tumbuh dan berkembang di Kufah dan menimbulkan kejadian-kejadian yang merusak persatuan dan kesatuan umat Islam, di antaranya: perang  jamal dan perang Siffin pada tahun 36 H. Terbunuhnya Husayn bin Ali bin Abi Talib di Karbala pada  tahun 61 H[12]. Kejadian-kejadian tersebut berpengaruh terhadap kota Basrah dan Kufah.
Pada waktu Ali menjadi khalifah, ia memindahkan pusat pemerintahan- nya dari Madinah ke Kufah sehingga penduduk Kufah menjadi pendukung dan berpihak kepada Ali bin Abi Talib, sementara lawan-lawan politiknya seperti Aishah, Talhah dan Zubayr berada di Basrah dan mendapat dukungan dari orang-orang Basrah[13]  Pada waktu perang jamal pada tahun 36 H. kedua penduduk kota yang berbeda aliran politik ini berhadap-hadapan dalam peperangan[14].
Di  belakang hari Kufah menjadi pusat kegiatan perlawanan Abbasiyah sebagai tandingan dari pemerintahan Bani Umayyah yang menjadikan Basrah sebagai pusat kekuasaannya di daerah di bawah Khurasan. Dalam perlawanan antara dua kekuatan  politik ini, akhirnya Abbasiyah dapat menggantikan kekuasaan Daulah Umayyah di bawah tangan al-Saffah pada tahun 133 H./750 M. Dari kondisi ini dapat dikatakan bahwa Basrah dari sudut politik adalah Uthmaniyah Umawiyah, sementara Kufah adalah Alawiyah Abbasiyah[15].
Kondisi sosial-budaya dan politik yang berbeda di antara dua kota tersebut di atas mengakibatkan seringnya terjadi pertikaian antara kedua kota tersebut. Agaknya fanatisme kedaerahan berpengaruh pula terhadap perbedaan pendapat dalam bidang ilmu pengetahuan dan menimbulkan kompetisi dalam ilmu termasuk nahwu[16]. Berikut ini dipaparkan beberapa fakta yang berpengaruh terhadap posisi ilmu nahwu pada kedua kota tersebut:
Pertama:  Orang Kufah lebih dahulu dari orang Basrah dalam bidang kajian hadis, fiqh, qira`ah al-Qur`an. Mahdi al-Makhzumi mengatakan: bahwa orang Kufah adalah pemilik fiqh, hadis dan qira`ah.  Sementara itu orang-orang Basrah pemilik ilmu pengetahuan dan filsafat karena mereka banyak berasimilasi dengan orang ajam, mereka  lebih merdeka dalam menganut bebagai mazhab dan cepat mengambil budaya orang asing karena banyak sumbernya dan sering berpindah-pindah untuk keperluan perdagangan dan mencari rezki. Kufah lebih lemah dalam hal menghubungkan orang Arab dan non Arab dan dalam hal mengambil budaya asing[17].
Kedua: para mutakallimin (theolog Islam) abad I dan II H. terpengaruh dengan mantiq (logika) dan  filsafat yang berasal dari Yunani. Demikian pula keadaannya yang berlaku di kalangan ahli nahwu. Ahli nahwu yang banyak terpengaruh dengan filsafat Yunani itu kebanyakannya adalah ahli nahwu dari kota Basrah karena mereka lebih dekat ke sekolah Jundisabur Persi yang mana di sana diajarkan kebudayaan Yunani, Persi, dan India[18]. Oleh karena itu tidak diragukan lagi bahwa orang-orang  Basrah lebih siap dalam peletakan ilmu pengetahuan; sementara orang Kufah belum mencapai kedudukan sebagaimana yang dicapai oleh orang Basrah kecuali dalam lapangan yang terbatas. Oleh karena itu secara alamiah nahwu di Basrah dibentuk dengan gambaran ilmiah yang cermat dan rasional sebagaimana terlihat dalam kitab-kitab nahwu yang dikarang oleh Sibawayh dan kitab-kitab lain yang beraliran Basrah. Demikian pula adanya pengaruh logika dan filsafat terhadap Basrah lebih  besar dibandingkan dengan yang terdapat di Kufah. Pengaruh ini akan terlihat pada perbedaan dalam bidang nahwu antara Bahrah dan Kufah.
Ketiga: Orang Irak khususnya orang Kufah banyak menambah hadith sahih dan memperbanyak  hadith maudu’i. Imam Malik menyebut Kufah sebagai Dar al-Darb karena banyak membuat-buat  hadith, seperti dar al-darb mengeluarkan dinar dan dirham. Ibnu Shihab berkata: "Hadis keluar dari kami sejengkal bila kembali ke Irak menjadi sehasta"[19].
Keempat: Kehidupan bahasa di kota Basrah dan Kufah pada abad permulaan Islam mengarah kepada  tiga masalah yaitu: pengumpulan bahasa, pembukuan, periwayatan syair dan peletakan kaidah-kaidah kebahasaan (qawa'id), sementara itu Basrah lebih dahulu sibuk dengan ilmu nahwu dari Kufah sekitar satu abad.



[1] Shawqi Dayf, al-Madaris al-Nahwiyah (al-Qahirah: Dar al-Ma`arif, 1983), 36-37.
[2] al-Tabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk (al-Qahirah: al-Maktabah al-Tawfiqiyah, tt), 2/518
[3] Shafiq Gharbal, al-Mawsu'ah al-Arabiyah al-Muyassarah (al-Qahirah: Dar al-Qawmiyah,1965), 373., Farid Wajdi, Dairah al-Ma’arif juz VIII, 30. al-Mas' udi, Murij,  hal. 611.
[4] Ahmad Amin, Fazr al-Islam (Bayrut: Dar al-Kitab al-Arabi, 2005), 182
[5] Ahmad Amin,Fazr al-Islam (Bayrut: Dar al-Kitab al-Arabi, 2005), 182
[6] al-Tabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk (al-Qahirah: al-Maktabah al-Tawfiqiyahtt), 3/3-67
[7] Ibn  al-Athir al-Shaybani, al-Kamil  fi al-Tarikh (Bayrut: Dar al-Kutub al-Ilmi>yah,1998), 3/161
[8] Ali dibunuh pada Bulan Ramadhan malam Jum`at  tahun 40 H. Lihat Ibn al-Athir al-Shaybani, al-Kamil fi al-Tarikh (Bayrut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1998), 3/254
[9] Husayn dibunuh pada tahun 61 H. Lihat al-Tabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk (al-Qa>hirah:  al-Maktabah al-Tawfiqiyah  tt), 3/331
[10] Ahmad Amin, Fazr al-Islam (Bayrut: Dar al-Kitab al-Arabi>, 2005), 184
[11] al-Mas'udi, Muruj al-Dhahab wa Ma‘adin al-Jawhar (Bayrut: Dar al-Kutub al-Lubnani, 1982), 2/352
[12] al-Tabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk (al-Qahirah: al-Maktabah al-Tawfiqiyah tt),  3/3-67
[13] Ibn al-Athir  al-Shaybani, al-Kamil fi al-Tarikh (Bayrut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1998), 3/99
[14] Sa'ad al-Afghani, Fi Usul al-Nahw (Bayrut: al-Maktab al-Islami, 1987), 217
[15] Mahdi al-Makhzumi, Madrasah al-Kufah wa Manhajuha fi Dirasah al-Lughah wa al-Nahwi (al-Qahirah: Sharikah Maktabah Mustafa al-Halabi, 1958), 66
[16] Pendapat ini senada dengan Ahmad Amin, Duha al-Islam (Bayrut: Dar al-Kitab al-Arabi,  2005),  469
[17] Mahdi al-Makhzumi, Madrasah al-Kufah wa Manhajuha fi Dirasah al-Lughah wa al-Nahwi (al-Qahirah: Sharikah Maktabah Mustafa al-Halabi, 1958), 66.
[18] al-Ta`wil, al-Khilaf bayna al-Nahwiyin Dirasah wa tahlil wa  taqwim  (Makkah: al-Maktabah al-Faisaliyah, 1984), 80
[19] Ahmad Amin, Duha al-Islam (Bayrut: Dar al-Kitab al-Arabi, 2005), 152

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda