PEMBAHASAN KUFAH
Landasan
Epistemologis Ilmu Nahwu di Kufah
Kajian nahwu
di Kufah muncul berselang kurang lebih seratus tahun setelah kajian nahwu di
Basrah. Hal ini disebabkan karena di Kufah lebih disibukkan kajian terhadap
hadis, fiqih dan qira`ah. Sedangkan di Basrah para ulama lebih disibukkan kajian
bahasa, nahwu, filsafat dan mantiq. Disamping itu pula para penduduk Kufah lebih
suka berpegang teguh terhadap tradisi-tradisi kuno. Karena di daerah tersebut banyak
tinggal orang-orang yang asli Arab khususnya para sesepuh shahabat Nabi Muhammad
saw. Seperti Amr bin Yasir, AbdAllah ibn Mas'ud dan lain sebagainya. Pada masa
Ali, Kufah sebagai pusat kegiatan laskar tentara Islam. Maka dinamakan Kufah
karena untuk tentara. Mungkin dengan sebab banyak kegiatan militer ini para penduduk Kufah kurang perhatiannya dalam mengikuti kebudayaan yang
sedang berkembang sebagaimana Basrah[1].
Kufah adalah
suatu kota di Irak yang terletak di sebelah kanan sungai Kufah yang merupakan salah
satu cabang dari sungai Eufrat. Kota ini merupakan salah satu kota bersejarah
di Irak yang dibangun oleh Sa'ad bin Abi Waqqas di masa pemerintahan Umar bin
Khattab pada tahun 15 H[2]. Kufah menjadi pusat pemerintahan pada masa Khalifah
Ali bin Abi Talib. Di sana terdapat sebuah mesjid dengan sebutan masjid Kufah
dan di mesjid inilah Ali bin Abi Talib terbunuh. Kota ini merupakan lambang
kebesaran Islam dan menjadi tempat tujuan dan tempat berkumpul orang-orang
Islam[3].
Di masa
pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan (644-656), pertentangan internal
mulai tampak. Kelompok elite suku Arab
yang lebih dahulu tinggal di Kufah pada masa Umar merasa kedudukannya tergeser
oleh para pendatang baru. Dalam pada itu, Kufah juga menjadi basis golongan
pendukung Ali bin Abi Talib[4].
Karena alasan
politik, Khalifah Ali bin Abi Talib (656-661) memindahkan ibukota pemerintahan
dari Madinah ke Kufah. Sejak itu, kota ini menjadi basis kekuatan pendukung Ali
dan keluarganya[5].
Dukungan tidak hanya bersifat politik, tetapi telah berubah menjadi suatu
akidah dan ideologi bahwa kepemimpinan umat harus dipegang Ali dan
keturunannya. Kelompok mereka selanjutnya disebut Shi`ah.
Pergolakan politik
menjadikan Kufah lebih menyerupai pusat militer untuk menumpas
para pemberontak yang berakibat peperangan. Seperti Perang Jamal[6](656),
yakni perang antara Ali dan pihak yang menuntut bela terhadap kematian Uthman bin
Affan, dan perang Siffin[7](657),
yakni perang antara Ali dan Muawiyah bin Abi
Sufyan. Akhirnya, Kufah menjadi saksi atas terbunuhnya Khalifah Ali bin
Abi Talib pada Januari 661[8].
Di
masa Bani Umayyah (661-750), Kufah senantiasa menjadi sumber pemberontakan pro
Shi`ah, antara lain pemberontakan di bawah pimpinan Muslim bin Aqil yang
mengakibatkan terbunuhnya Husayn bin Ali bin Abi Talib di Karbala pada 680[9].
Sejak awal
berdirinya, Kufah telah dibanjiri para Sahabat Nabi Saw. Di antara mereka yang
paling terkenal di bidang ilmu adalah Ali bin Abi Talib dan AbdAllah bin Mas`ud
(w. 33 H/652 M). Karena disibukan urusan politik dan peperangan, Ali tidak
mempunyai kesempatan untuk mengajar.
Sebaliknya Ibn Mas`ud merupakan orang yang sangat berpengaruh di bidang
ilmu[10].
Kufah selanjutnya membentuk aliran
tersendiri dalam bidang fikih dan pengetahuan bahasa Arab (nahwu) dan menjadi
tandingan bagi Basrah.
Ahli sejarah
mengungkapkan bahwa Kufah adalah tanah air
orang-orang Shi'ah ahl al-bayt. Di dalamnya muncul AbdAllah bin Saba`,
ia mendapatkan lahan yang subur untuk menyebarkan ajakan menentang Muawiyah,
Gubernur Sham waktu itu. Akibat dari fitnah dan hasutannya itu orang-orang
Kufah menjadi marah kepada Uthman bin Affan yang waktu itu menjadi khalifah
yang berkedudukan di Madinah. Kufah merupakan pusat pengendalian perlawanan melawan
pemerintahan pusat yang berkedudukan di Madinah. Sebagaimana dikatakan oleh al-Mas'udi bahwa penduduk Kufah adalah
yang paling cepat menerima bay'ah Ali bin Abi Talib[11].
Sesuai dengan
berlalunya masa, maka Shi'ah pun tumbuh dan berkembang di Kufah dan menimbulkan
kejadian-kejadian yang merusak persatuan dan kesatuan umat Islam, di antaranya:
perang jamal dan perang Siffin pada tahun
36 H. Terbunuhnya Husayn bin Ali bin Abi Talib di Karbala pada tahun 61 H[12].
Kejadian-kejadian tersebut berpengaruh terhadap kota Basrah dan Kufah.
Pada waktu Ali
menjadi khalifah, ia memindahkan pusat pemerintahan- nya dari Madinah ke Kufah
sehingga penduduk Kufah menjadi pendukung dan berpihak kepada Ali bin Abi
Talib, sementara lawan-lawan politiknya seperti Aishah, Talhah dan Zubayr
berada di Basrah dan mendapat dukungan dari orang-orang Basrah[13] Pada waktu perang jamal pada tahun 36 H.
kedua penduduk kota yang berbeda aliran politik ini berhadap-hadapan dalam
peperangan[14].
Di belakang hari Kufah menjadi pusat kegiatan
perlawanan Abbasiyah sebagai tandingan dari pemerintahan Bani Umayyah yang
menjadikan Basrah sebagai pusat kekuasaannya di daerah di bawah Khurasan. Dalam
perlawanan antara dua kekuatan politik
ini, akhirnya Abbasiyah dapat menggantikan kekuasaan Daulah Umayyah di bawah
tangan al-Saffah pada tahun 133 H./750 M. Dari kondisi ini dapat dikatakan
bahwa Basrah dari sudut politik adalah Uthmaniyah Umawiyah, sementara Kufah
adalah Alawiyah Abbasiyah[15].
Kondisi
sosial-budaya dan politik yang berbeda di antara dua kota tersebut di atas
mengakibatkan seringnya terjadi pertikaian antara kedua kota tersebut. Agaknya fanatisme
kedaerahan berpengaruh pula terhadap perbedaan pendapat dalam bidang ilmu
pengetahuan dan menimbulkan kompetisi dalam ilmu termasuk nahwu[16].
Berikut ini dipaparkan beberapa fakta yang berpengaruh terhadap posisi ilmu
nahwu pada kedua kota tersebut:
Pertama: Orang Kufah lebih dahulu dari orang Basrah
dalam bidang kajian hadis, fiqh, qira`ah al-Qur`an. Mahdi al-Makhzumi
mengatakan: bahwa orang Kufah adalah pemilik fiqh, hadis dan qira`ah. Sementara itu orang-orang Basrah pemilik ilmu
pengetahuan dan filsafat karena mereka banyak berasimilasi dengan orang ajam,
mereka lebih merdeka dalam menganut
bebagai mazhab dan cepat mengambil budaya orang asing karena banyak sumbernya
dan sering berpindah-pindah untuk keperluan perdagangan dan mencari rezki.
Kufah lebih lemah dalam hal menghubungkan orang Arab dan non Arab dan dalam hal
mengambil budaya asing[17].
Kedua: para
mutakallimin (theolog Islam) abad I dan II H. terpengaruh dengan mantiq
(logika) dan filsafat yang berasal dari
Yunani. Demikian pula keadaannya yang berlaku di kalangan ahli nahwu. Ahli
nahwu yang banyak terpengaruh dengan filsafat Yunani itu kebanyakannya adalah
ahli nahwu dari kota Basrah karena mereka lebih dekat ke sekolah Jundisabur
Persi yang mana di sana diajarkan kebudayaan Yunani, Persi, dan India[18].
Oleh karena itu tidak diragukan lagi bahwa orang-orang Basrah lebih siap dalam peletakan ilmu
pengetahuan; sementara orang Kufah belum mencapai kedudukan sebagaimana yang
dicapai oleh orang Basrah kecuali dalam lapangan yang terbatas. Oleh karena itu
secara alamiah nahwu di Basrah dibentuk dengan gambaran ilmiah yang cermat dan
rasional sebagaimana terlihat dalam kitab-kitab nahwu yang dikarang oleh Sibawayh
dan kitab-kitab lain yang beraliran Basrah. Demikian pula adanya pengaruh
logika dan filsafat terhadap Basrah lebih
besar dibandingkan dengan yang terdapat di Kufah. Pengaruh ini akan
terlihat pada perbedaan dalam bidang nahwu antara Bahrah dan Kufah.
Ketiga: Orang
Irak khususnya orang Kufah banyak menambah hadith sahih dan memperbanyak hadith maudu’i. Imam Malik menyebut Kufah sebagai
Dar al-Darb karena banyak membuat-buat
hadith, seperti dar al-darb mengeluarkan dinar dan dirham. Ibnu Shihab
berkata: "Hadis keluar dari kami sejengkal bila kembali ke Irak menjadi
sehasta"[19].
Keempat:
Kehidupan bahasa di kota Basrah dan Kufah pada abad permulaan Islam mengarah
kepada tiga masalah yaitu: pengumpulan
bahasa, pembukuan, periwayatan syair dan peletakan kaidah-kaidah kebahasaan
(qawa'id), sementara itu Basrah lebih dahulu sibuk dengan ilmu nahwu dari Kufah
sekitar satu abad.
[3] Shafiq Gharbal, al-Mawsu'ah
al-Arabiyah al-Muyassarah (al-Qahirah: Dar al-Qawmiyah,1965), 373., Farid
Wajdi, Dairah al-Ma’arif juz VIII, 30. al-Mas' udi, Murij, hal. 611.
[4]
Ahmad Amin, Fazr al-Islam (Bayrut: Dar al-Kitab al-Arabi, 2005), 182
[8] Ali dibunuh pada Bulan Ramadhan
malam Jum`at tahun 40 H. Lihat Ibn
al-Athir al-Shaybani, al-Kamil fi al-Tarikh (Bayrut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah,
1998), 3/254
[9] Husayn dibunuh pada tahun 61 H.
Lihat al-Tabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk (al-Qa>hirah: al-Maktabah al-Tawfiqiyah tt), 3/331
[11] al-Mas'udi, Muruj al-Dhahab wa
Ma‘adin al-Jawhar (Bayrut: Dar al-Kutub al-Lubnani, 1982), 2/352
[15] Mahdi al-Makhzumi, Madrasah al-Kufah
wa Manhajuha fi Dirasah al-Lughah wa al-Nahwi (al-Qahirah: Sharikah Maktabah
Mustafa al-Halabi, 1958), 66
[16] Pendapat ini senada dengan Ahmad
Amin, Duha al-Islam (Bayrut: Dar al-Kitab al-Arabi, 2005),
469
[17] Mahdi al-Makhzumi, Madrasah al-Kufah
wa Manhajuha fi Dirasah al-Lughah wa al-Nahwi (al-Qahirah: Sharikah Maktabah
Mustafa al-Halabi, 1958), 66.
[18] al-Ta`wil, al-Khilaf bayna
al-Nahwiyin Dirasah wa tahlil wa
taqwim (Makkah: al-Maktabah
al-Faisaliyah, 1984), 80
[19]
Ahmad Amin, Duha al-Islam (Bayrut: Dar al-Kitab al-Arabi, 2005), 152
0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda